
Hati yang dulunya bahagia kini berganti dengan duka yang tak tertahankan. Airmata yang tak pernah jatuh bercucuran kini telah membasahi kedua pipi sang gadis. Sosok penyemangat hidupnya kini telah meninggal kan Selama-lamanya. Sang gadis berharap dia tenang dialam sana.
Maut telah memisahkan mereka, sekian lama kebahagiaan yang ia jalani kini telah berakhir. Perjalanan hidup yang mereka alami, pait manis yang ia rasakan kini tinggal kenangan. Tak mudah baginya untuk melupakannya begitu saja. Perjuangan sang ayah yang tak bisa ia bayar dengan sepeser uang. Pengorbanannya yang begitu tulus untuk putrinya,sampai ia tak kenal lelah.
Tangis tawa bersama sang ayah kini hanya bayangan yang akan selalu membekas dalam dirinya. Sebenarnya hati sang gadis belum siap menerima semua ini, tapi semua ini sudah takdir.
Hanya tinggal kenangan bunga mawar yang ditanam ayah untuk sang gadis. Walau hanya sepohon bunga ia sangat menyayangi nya. Sang gadis berjanji akan merawatnya sampai tumbuh besar, seperti sang ayah yang membesarkannya sampai saat ini.
Hari telah berlalu, kini gadis tinggal seorang diri dalam gubuk Sang ayah. Hari-harinya hampa tak ada sosok Sang ayah yang selalu mengingatkannya untuk makan. Tak ada seorang pun yang peduli dengannya, walau tak ada yang peduli Sang gadis tak mempermasalahkan. Yang ia khawatirkan ketika ia lupa tidak menyirami bunga yang ditanam Sang ayah. Karna hanya itu satu-satunya peninggalan ayah yang bisa ia jaga.
Kehidupan Sang gadis kini sangat memprihatinkan, dia selalu memunguti sampah dari tong sampah satu ke tong yang lain. Perekonomian Sang gadis kini menurun drastis, sejak ia jatuh sakit dalam waktu beberapa hari. Gadis ini jauh dari pemukiman warga desa, Jadi tak ada seorang pun yang tahu akan keadaannya yang sakit.
Pada suatu hari ada seseorang yang tiba-tiba datang ke gubuk si gadis.
"Assalamu'alaikum wr.wb." kata orang itu
"Wang alaikumsalam wr.wb." jawab Sang gadis
"Ada apa.?? Apa yang membuat Anda datang kesini?? " tanya Sang gadis
"Benarkah kamu hidup sebatang kara disini ? "
Si gadis mengangguk dengan pelan
"Ayah ku sudah meninggal beberapa hari yang lalu" jawab Sang gadis
"Kenapa kamu gak pindah tempat saja, agar gak jauh dari pemukiman warga? " tanya orang itu
"Aku sudah menyiapkan tempat untuk kamu hidup, tak mewah sih.. Tapi kalau buat berteduh itu sudah layak., tak seperti gubuk ini " kata orang itu
"Untuk apa saya pindah, saya sudah terlanjur nyaman dengan gubuk ini, walau tak sebesar dan senyaman ruman-rumah yang ada di desa, saya betah disini. Suasana yang dimana aku bisa merasakan ada sosok ayahku" jawab Sang gadis
Mendengar itu, ia tak bisa berkata apa-apa gadis ini sungguh sayang dengan sosok Sang ayahnya ini. Kasih sayang yang telah ayahnya beri tak bisa diganti dengan kemewahan. Keserhanaan yang ayahnya ajari tak mungkin ia nodai.
"Ya sudah.. Jika itu kamauanmu aku gak bisa mendesak mu" kata orang itu
"Kenapa anda bisa tau jika saya tinggal disini?" tanya Sang gadis
"Ayahmu adalah teman dekatku dulu, kita sempat bertemu di sebrang jalan. Ayah mu menceritakan semua kisah dalam kehidupan yang ia jalani kepadaku, mendengar cerita itu aku bisa diam. Karena saat itu juga sedang dalam masalah kesulitan jadi aku gak bisa bantu." kata orang itu
"Teruss... " kataku sambil berkaca-kaca
"Lalu ayahmu memberitahu ia sekarang tinggal dimana dan dengan siapa" jawab orang itu
"Dia juga pernah sedikit cerita tentang mu, dan keadaanmu. Ia juga berpesan kepadaku jika dia sudah tiada, dia menitipkan kamu dengan ku untuk selalu menjaga mu sebisa diriku" kata orang itu
Setelah mendengar cerita itu Sang gadis meneteskan airmata betapa sayangnya Sang ayah sampai-sampai menitipkan putrinya kepada kerabat terdekat.
Pagi yang cerah dimana Sang gadis akan menyiram bunga kesayangannya, bunga mawar merah. Tiba-tiba wajah Sang gadis berubah menjadi muram, dan berkaca-kaca. Entah apa yang terjadi dengan Sang bunga.
"Apa yang terjadi dengan mu?? Kenapa engkau mati maafkan aku yang telah melupakanmu,jujur dalam hatiku tak ada niatan sedikitpun untuk melupakan mu, kemarin aku sakit"kata Sang gadis sambil menangis
Padahal itu adalah satu-satunya peninggalan dari Sang ayahnya, kini benar-benar telah tiada seperti ayahnya. Sekarang Sang gadis baru sadar bahwa itu sudah takdir. Tumbuhan juga makhluk hidup yang dimana akan mengalami kematian atau akhir hidupnya. Tidak hanya manusia tapi semua makhluk hidup yang telah diciptakan yang Maha Kuasa pasti kan mengalaminya.
