Tampilkan postingan dengan label Cerpen Yang Aku Lihat Hanya Abu-abu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Yang Aku Lihat Hanya Abu-abu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juni 2022

Yang Aku Lihat Hanya Abu-abu



Penantian Dhani menunggu sang ayah pulang membuat ia bosan sampai tertidur lelap sampai pagi. Pagi-pagi ibu Dhani pamitan sama Dhani mau pergi sebentar, nanti akan segera kembali. 
"Ibu pergi ke pasar dulu ya nak.. Kalau ada apa-apa kamu kabarin ibu!! " kata ibu
"Iya bu nanti Dhani kabarin kalau ada apa-apa" jawab Dhani sambil tersenyum
"Ibu juga udah nyiapain sarapan buat kamu, jangan lupa makan ya kalau udah langsung berangkat sekolah!!"perintah ibu

Lalu ibu meninggalkan Dhani dirumah sendiri an. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu

"Tok...tok...tok...Assalamu'alaikum wr.wb." suara dari luar pintu
Dhani segera membukaakan pintunya, Dhani kira itu suara ayahnya, akan tetapi itu bukan beliau. Dhani tercengang melihat dua orang lelaki bertubuh tegap yang mengenakkan jaket kulit berdiri didepan pintu rumahnya. 
"Maaf apa benar in rumah Bapak Ahmad? "
"I.. ya tapi Ayah lagi gak dirumah" jawab Dhani
"Kami berdua dari pihak kepolisian, terjadi sesuatu pada Pak Ahmad, dan sekarang ada dirumah sakit" kata pak polisi

Darah dalam setiap urat madi Dhani berhenti mengalir, tubuhnya terasa membeku dengan ucapan tersebut. 
"Ayah kenapa Pak? " tanya Dhani
"Nanti saja dilihat sendiri ya, ibu mama? Biar  sekalian berangkat ke rumah sakitnya" kata pak polisi
"Ibu di pasar Pak, saya kabarin ibu dulu.. sebentar" kata Dhani

Tanpa berfikir apa pun atau basa basi mempersilahkan kedua aparat pengaman itu untuk duduk Dhani meleset menuju kamar untuk mengambil tas dan handphon. 
"Bu, Ayah dirumah sakit.. Ada polisi yang datang ke rumah" 
Setelah pesan terkirim Dhani keluar rumah, kedua polisi itu masih berdiri di depan pintu. 
"Sudah? " tanya pak polisi
Dhani menggangguk, menguci pintu dan kemudian mengikuti kedua polisi tersebut masuk mobil. 

"Kenapa masuk nya kes ini pak? " tanya Dhani setelah sampai di rumah sakit

Dhani curiga dan sekaligus khawatir ketika kedua polisi itu mengajaknya menuju ruangan yang paling ditakuti oleh semua orang di sebuah rumah sakit. Kamar Mayat. Salah seorang polisi yang berkumis menepuk bahu Dhani, menghela nafas sambil menatap wajah Dhani. 

"Adek saber ya, tadi malam pak Ahmad mengalami musibah, beliau di rampok saat perjalanan pulang" kata pak polisi
"Madi maksudnya Ayah... " kata Dhani 

Dhani tak mampu meneruskan kata-katanya, kedua lututnya seakan tak bisa menopang berat badan nya, ia nyaris rubuh seandainya saja polisi tadi tidak siap memegangi lengannya Dhani pasti akan terjatuh. 

"Bisa aja mereka salah, bisa aja ini bukan Ayah bisa aja ini perampoknya" batin Dhani mencoba menghibur dirinya sendiri. 
Sekalipun sangat pesimis namun ia tetap berharap telah terjadi kesalahan dalam pengurusan identitas jenazah yang akan ia lihat saat lagi. 

Pintu Kamar jenazah terbuka lebar, denga  langkah perlahan ketiganya berjalan memasuki ruangan yang sedikit kelam, tak ada penerangan yang cukup, jendela pun di cat buram. Menambah kesan angker yang menciutkan nyali. 

"Sebelah sini" kata pak polisi

Dhani menahan nafas saat Kain Putin yang digunakan untuk menutupi sebuah jenazah diangkat perlahan, perutnya seakan nyalis meledak dan setiap inchi kulitnya mengkerut kedinginan. 
Wajah yang pucat itu.. Sekalipun lebam yang mendominasi bagian wajah jenazah itu berbujur kaku.
Dhani tahu persia... 

"Ayah... " kata Dhani 

Tak ada jeritan, tak ada tangis yang histeris, juga tak ada perilaku emosional lainnya yang bisa Dhani tunjukkkan. 
Dhani hanya bisa jatuh terduduk dan menangis tanpa suara. Hatinya sakit, sangat kecewa dan merasa hidup ini sangat tak adil. 

"Ayah" kata Dhani

Dhani mendesis, merangkak memeluk jenazah Ayah nya yang mulai terasa dingin. Di usapnya lelaki yang sangat ia sayangi itu dengan lembut kedua kelopak matanya tertutup rapat, ada sedikit sisa darah yang mengering diujung bibir Ayah. 
"Siapa pelakunya pak?? " Tanya Dhani dengan menahan emosi
"Kamu sudah mendapat kan identitas nya, sekarang sedang dilakukan pengejaran" kata pak polisi

Dhani menggeleng-gelengkan kepalanya, membiarkan air matanya mengalir berjatuhan diatas tubuh sang ayah yang tak lagi bernafas. Bagaimana ini semua bisa terjadi pada keluarga ku. 

Ibu berkali-kali jatuh pingsan sejak kembali dari rumah sakit. Sekarang ibu sedang beristirahat di dalam kamar, manangis tanpa suara dan tak ingin bertemu dengan siapapun. Teh Lisa pun hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil memeluk jenazah yang telah di bungkus Kain kafan. Teh Lisa adalah adik dari ayah ku. 

"Dhan.. " kata Teh Lisa 

Dhani mendongak kedua kelopak matanya terasa berat dan perih, nampak beringsut mendekatinya dengan mata yang sembab. 

"Teteh ikut bela sungkawa " ucap dengan bibir yang bergetar, tangis pun tumpah dari kedua mata Teh Lisa

"Iya.. " kata Dhani

Pandangan beralih menatap satu per satu teman sekolah nya yang datang untuk melayat. Wahyu teman Dhani berdiri di ambang pintu, menundukan kepalanya dan tak bergerak. Ibu-ibu dan  bapak-bapak pengajian yang datang melayat tengah membacakan ayat suci Al-Qur'an, dan beberapa saudara ayah lain nya sibuk menyuguhkan air minum bagi pelayat lain. 

Dhani menelan ludah getir, ditatapnya jenazah Ayah yang terbujur di tengah ruangan. Beberapa menit lagi Ayah akan dibawa ke tempat peristirahatan yang terakhir, hanya tersisa beberapa saat lagi untuk memandang sang Ayah yang terakhir kali. 

Ia beringsut mendekati jenazah ayah. Dikecupnya kening lelaki paru baya itu dengan penuh kasih.
"Aku janji yah.. Bakal tepatin harapan ayah" kata Dhani dengan suara lirih di dekat telinga sang ayah. 
Hanya dengan cara itu lah yang bisa Dhani lakukan untuk sang ayah. Ber janji akan mewujudkan semua harapan sang ayah, walaupun sang ayah telah tiada.