Silla mendekat ke arah Salsa yang sedang duduk dikantin. Memang semenjak Salsa dekat dengan Tiara, Salsa tak pernah mendekat ke arah Silla dan Iskandar. Salsa palah semakin menjauh dari mereka, padahal sebelumnya mereka sama sekali tak ada masalah.
Kalaupun ada masalah, itu karena Silla menolak Salsa yang menghabiskan waktunya hanya untuk menanti Rengat yang sama sekali tak mempedulikannya. Tak ada niatan buruk dihati Silla. Silla hanya tak ingin melihat Salsa terluka.
Salsa tak menanggapi Silla yang mendekat ke arahnya. Dia membiarkan Silla duduk di sampingnya, namun tak ingin untuk menyapanya.
"Kamu kenapa sih Sal? Ngediemin aku kaya gini apa salah aku? " tanya Silla
Salsa diem, dia malah asyik menyeruput juice alapukatnya.
"Aku punya masalah apa sih Sal, sama kamu? " tanya Silla lagi
"Kamu gak salah apa-apa aku yang salah, aku ingin dimengerti" jawab Salsa sedikit sinis.
"Jadi selama ini aku kurang ngerti sama kamu gitu? " tanya Silla dengan hati penuh luka. Sahabat yang selalu dibanggakannya dan selalu di nomor satukan, menganggapnya kalau dia tak pernah mengertinya.
Ah, Salsa begitu mudahnya dia menggores luka dihati sahabatnya sendiri hanya demi orang yang baru di kenalnya. Dan dia lebih menyakitkan untuk Silla, orang yang dipercaya Salsa palah justru telah mengkhianati kepercayaannya.
Iskandar tak habis pikir, Salsa telah berubah. Terlalu percaya pada orang baru demi mendapatkan seorang Cowok.
Iskandar lalu menuju ruang kelas mengambil kamera di tasnya dan ingin menunjukkan foto-foto itu kepada Salsa. Lebih baik terluka sekarang daripada nanti. Lebih baik pahit sekarang daripada menelan racun yang berasa manis tapi akhirnya hanya mematikan.
"Sal aku mau bicara sama kamu, " kata Iskandar
"Mau ngomong apa sih? " tanya Salsa
Iskandar lalu memperlihatkan foto-foto Erlan dan Vita yang kemarin ia ambil. Sementara Salsa malah tertawa terbahak-bahak. Menganggap semua ini adalah lelucon belaka. Foto-foto ini semua tak melunturkan kepercayaan yang telah ditanam Vita dan Erlan.
"Kamu tahu gak sih,! Vita deketin Erlan itu cuma pingin nyomblangin aku sama Erlan. Ngak lebih, "
"Sal mereka itu bohongin kamu! " kata Iskandar berusaha untuk menyadarkan Salsa.
"Udah deh, kenapa sih kamu sama Silla nggak pernah ngertiin aku? Kenapa kamu sama Silla nggak pernah menyukai Erlan? Padahal selama ini Erlan salah apa sama kalian? " tanya Salsa dengan nada meninggi. Emosinya mulai naik.
"Ini bukan masalah salah atau nggak ngrtin kamu Sal! Kami ngelakuin ini karena kami nggak mau liat kamu terluka. Kami sayang sama kamu Sal " Iskandar berusaha menjelaskan.
"Sayang! Kamu masih bilang sayang sama aku? Apakah sayang itu seperti ini? Ingin menjauhkan aku dari orang yang aku cinta? " kata Salsa
Perdebatan sengit pun terjadi antara Salsa dan Iskandar. Sama-sama tak ada yang mau nengalah dan tetap pada pendiriannya. Menganggap apa yang ada dalam pikiran masing-masing adalah yang paling benar.
"Udah deh, Iskandar mending kamu urusin urusan kamu sendiri! Ini tuh urusan aku dan aku nggak butuh bantuan kamu! " teriak Salsa lalu pergi meninggalkannya.
Rasanya, Iskandar ingin sekali marah. Menghujat ataupun menukul Erlan atau Vita. Tapi apa daya, itu semua bukan kuasanya Dia bukan apa-apa untuk Salsa. Apalagi sekarang Salsa sama sekali tak menganggapnya membuat ia engga dengannya

