Tari meneteskan air matanya disaat mengingat masa-masa itu. Sonia, Satu-satunya orang yang berada diruang kelas menjadi merasa tak enak hati. Meski ragu, tapi akhirnya dia memberanikan diri untuk mendekat ke arah Tari.
"Tar, kamu kenapa? " tanya Sonia dengan lembut
Tari menggelengkan kepala dan secepatnya mengusap air matanya. Namun, tapi air matanya keluar kembali. Bayang-bayangan masa lalu itu semakin erat mendekat ke arahnya. Bayangan Danil yang tersenyum menghampiri.
"Ah.. Kenapa Kris tak seperti Danil? Kenapa cowok itu begitu dingin terhadap ku? Apa yang kurang dariku? " jerit hati Tari yang terluka.
Sonia hanya bisa diam melihat Tari yang menangis. Sebenarnya, dia ingin sekali bertanya kenapa Tari menangis, ada masalah apa. Tapi, Sonia merasa itu tak pantas. Dia hanya manusia baru dalam kehidupan Tari dan tak pantas ikut campur dalam masalahnya Tari. Apalagi kan Tari mempunyai segalanya, punya orang tua yang utuh, materi yang berlimpah dan juga sahabat yang selalu ada untuknya. Jadi Sonia cukup sadar diri kalau sebenarnya Tari tak membutuhkan kehadirannya.
Sonia beranjak dari duduknya.
"Mau kemana? " tanya Tari pada Sonia. Matanya yang redup, menatap lekat ke arah Tari.
"Kembali ke kuraiku, " jawabnya tanpa basa basi.
"Kenapa? Apa kamu ngak mau kenal aku? Sama seperti... " tanya Tari yang mengambang. "Kris.. " lanjutnya ragu.
Sonia membelalak matanya. "Kris? " bibirnya mrnyebut nama itu tanpa suara.
Tari mengangguk. Sonia sepertinya tertarik dengan apa yang dikatakan Tari tadi. Lalu, dia kembali duduk disamping Tari.
Tari menarik nafas panjang sebelum dia becerita tentang hatinya. Ya, tentang hatinya. Entah kenapa hati Tari begitu yakin terhadap Sonia yang pendiam itu, yakin kalau Sonia mau mendengarkannya dan akan memberikan masukan-masukan yang menyegarkan hatinya.
Setidaknya Tari yakin kalau Sonia akan berada di pihaknya. Menganggap kalau Kris adalah sosok yang baik. Setidaknya Tari berharap kalau Sonia akan mengatakan lain dari yang biasa Sani ataupun Silla katakan. Setidaknya Tari berharap kalau pandangan Sonia terhadap Kris, sama seperti pandangannya terhadap Kris.
Ya, terkadang orang yang baru dikenal memang lebih mengerti kita daripada sahabat yang sudah bertahun-tahun kita kenal.
"Menurut kamu. Kris itu yang bagaimana? " tanya Tari tiba-tiba dan membuat Sonia tercengang.
Kenapa Tari tiba-tiba betanya seperti itu?
Sonia tak tahu harus jawab apa, karena selama dia sebangku dengan Kris, Kris sama sekali tak pernah bertegur sapa dengannya. Jangankan bertegur sapa memperkenalkan diri saja tidak
"Kenapa diam? " Tari bertanya. Sementara Sonia hanya menunduk.
Sonia berusaha mengatur kata-kata yang baik. Dia tak mau salah bicara terhadap teman baru dikenalnya. Sonia tidak mau Tari akan beranggapan buruk terhadapnya. Dan Sonia juga tidak mau menilai Kris begitu saja tanpa dia mengenalnya terlebih dahulu.
"Dia pendiam, tak banyak bicara, pintar aktif dalam segala kegiatan, baik. Ya, hanya itu saja yang saya tahu " kata Sonia kemudian menggigit bibirnya.
Tari hanya terdiam.
"Dia memang baik. Tapi sayang, dia begitu dingin dan angkuh, " kata Tari
"Mungkin aku ini bodoh. Bisa-bisanya aku jatuh cinta pada cowok berhati batu seperti dia. Padahal disekeliling ku banyak sekali cowok yang mengejar ku dan menginginkan ku, huh" kata Tari bercerita
Sonia hanya mendengarkanya saja. Mendengarkan setiap ucapan yang di ucapkan Tari. Tari tersenyum. Senyum getir. Menahan dirinya.
"Kalau aja Kris itu gak kaya Danil, semua pasti berbeda. Atau Kris bisa seperti Danil, " lanjut Tari diantara kegetirannya.
"Apa kamu pernah jatuh cinta, Sonia? Atau, kecewa? " tanya Tari
Sonia menerawang. Pikirannya mengingat masa lalu. Jatuh cinta? Apakah dia merasakan itu yang namanya cinta? Apakah dia mempunyai waktu untuk tahu jawabannya, apakah dia pernah jatuh cinta,? Sementara hidupnya saja sudah terlalu ribet dengan urusan keluarganya yang semakin hari semakin pelik.
"Aku gak tahu apakah aku pernah jatuh cinta, Tar?Yang aku tahu, aku pernah dekat dengan seseorang. Ya, kami memang dekat. Dan aku sangat bahagia bisa berada di dekatnya. Namun semua berbeda, ternyata dia mencintai sepupuku. Semua kebahagiaan yang aku rasakan pun lenyap entah kemana. Dan mulai saat itu, aku tak tahu lagi rasanya bahagia, " jawab Sonia panjang lebar. Entah mengapa Sonia begitu lancar menceritakan masa lalunya pada Tari. Padahal, sebenarnya Sonia adalah tipe orang yang pendiam.
Agak lama Tari dan Sonia saling berbincang. Mereka terlihat sangat akrab, sept dua sejoli yang sudah lama dekat. Saling bercerita tentang luka maupun bahagia yang pernah tertulis.

