Diam-diam Sarah juga mengamati kejadia tadi. Bukannya Vania yang diam mematung, tapi juga Adrian.
Walau duduk satu bangku, tapi Sarah merasa jauh dengan Adrian. Cowok itu sudah laksana batu yang tak bisa bicara. Tak pernah tegur sapa walau hanya sekedar berbasa-basi saja.
Sementara Vania, Sarah melirik wajah imutnya. Gadis yang biasa periang itu, kini bermurung. Sarah memang belum mengenal Adrian maupun Vania dengan lebih dekat, tapi dari tatapan mereka, Sarah mampu kalau ada ikatan batin kuat diantara mereka.
Bell berdering, tanda masuk kelas. Sisil dan Doni yang tadi menghabiskan waktu di perpustakaan karena ada tugas sekarang sudah masuk kelas dan menghampiri Sarah.
Sisil menatap Vania.
"Kamu kenapa Vania..? " tanya Sisil duduk di sebelahnya. Doni pun juga ikut mendekat. Tapi Vania hanya diam terpaku.
"Van.., " panggil Sisil
Vania masih terdiam tanpa jawaban. Lalu memeluk erat Sisil disertai dengan tangis yang membuncah.
Doni hanya terdiam. Dia melirik kamera yang tergeletak dimeja dan kemudian melirik Adrian yang tengah membaca bukunya. Doni seolah mampu membaca apa yang terjadi. Lalu diraihnya kamera itu. Disimpannya tanpa meminta pada Vania.
Doni sangat iri sama Adrian. Bisa-bisanya dia menyia-nyiakan cinta yang Vania berikan padanya. Disaat para cowok berlomba-lomba ingin mendapatkan Vania, Adrian justru menyia-nyiakannya begitu saja.
Doni tak habis pikir apa yang ada dalam pikiran Adrian. Waras kah dia? Normal kah dia? Pertanyaan-pertanyaan itu sering menghantuinya. Bagaimana tidak? Jika dia saja yang selalu disebut banci oleh teman-temannya mampu merasakan pesona yang Vania tebarkan, apalagi Adrian.
Doni yang seumur-umur belum pernah merasakan apa itu cinta, kini dia mampu merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Bagaimana perasaannya saat ini berada di dekat Vania.
Doni sepenuhnya menyadari, sampai kapanpun Vania hanya menganggap sahabatnya. Menganggapnya lelaki disaat teman-temannya menghujat Doni dengan sebutan banci. Mendengar keluh kesah Doni yang terkadang marah karena ibunya menginginkan Doni bermain basket, padahal Doni tak bisa melakukanya.
Walaupun terkadang naluri Doni selembut seorang cewek, namun Doni tetaplah cowok yang mampu jatuh cinta terhadap lawan jenisnya.
"Ke kantin yuk, Van, ? Laper nih," ajak Sisil
Salsa hanya menggeleng lemas. Dia tak berdaya, semua binar yang kerap mendampinginya, kini entn bagaimana. Tak ada kekuatan yang membuatnya bangkit menjadi periang. Semua seolah tenggelam tertanam waktu.
Semua karena kecewa. Cinta yang sekian lama dijaganya, tak lebih dari pisau yang tajam. Cinta yang kata orang itu indah, tak lebih dari penghargaan palsu yang berakhir dengan luka lara.

