Setiap orang pasti ingin merasakan betapa bahagia nya bercinta. Tapi beda dengan Gelis temanku, dia belum sama sekali merasakan cinta yang sesungguhnya dengan lelaki. Sering dia bercerita dengan ku, jika dia ingin banget merasakannya.
"Tau gak sih aku pngin punya pacar.. Seperti orang lain" kata Gelis
"Lah sih.. Kok tumben kamu bilang kaya gitu? " tanya aku
"Emang kenapa,. Salah gitu kalau aku bilang kaya gitu" kata Gelis
"Bukannya gitu Lis.. Kan aku cuma nanya, masa gitu ajah marah" kata aku
"Gimana gak marah, kamu sih nanya nya kaya gitu" jawab Gelis sambil cemberut
"Terus aku harus gimana, bantu nyariin gitu? " tanya aku
Gelis terdiam tapi diamnya itu mengandung banyak pertanyaan untuk ku. Tumbenan banget dia senyum-senyum sendiri, aku jadi bingung dan penasaran sebenarnya ada apa dengan nya.
"Kamu kenapa sih,kok senyum-senyum ,.? " tanya aku
"Hehehehehe.... Aku pengin cerita tapi kamu jangan cerita ke siapa-siapa" kata Gelis
"Iya.. Gimana.,?? Cerita dong..!! " tanya ku
"Senarnya aku lagi kagum sama seseorang, tapi orang keliatannya gak suka sama aku. Dia tampan, pintar, ulet lagi dalam pekerjaan. Pokoknya dia cool banget lah. Paket komplit dia tipe aku banget. Tapi itu gak mungkin, aku tak sebanding dengan nya. Aku gak mungkin tipe dia, tipe dia bukan yang seperti ku. Udah item gemuk gak glowing pokoknya aku man ana lah" kata Gelis
"Wah siapa itu kira-kira aku tau orang nya gak Lis..?? " tanya aku
"Kamu tau orang nya seperti apa benernya kita sering ketemu dengannya, tapi aku udah nyadar aku gak pants untuk nya" kata Gelis
"Udah Lis kamu gak usah mikirin jodoh semua sudah diatur sama Allah, kita tinggal mengikuti alur ceritanya aja, kita nikmati semuanya." Kataku
"Iyah..tapi kan... " kata Gelis
"Udah deh jangan mikirin kaya gitu" kataku
Selang bebetapa menit ibu Gelis menelphon Gelis untuk segera pulang di karenakan besok di rumahnya ada acara. Tanpa basa basi Gelis pamit sama aku lalu langsung pulang.
Keesokan hari nya tepat dimana acara di rumahnya Gelis mulai. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Pada saat itu orang membicarakan dua pemuda yang akan dijodohkan sama seorang gadis. Gelis mendengarkan pembicaraan itu, tapi gak tahu siapa yang dimaksud. Tiba-tiba ayah gelis mendekat.
"Gelis.. Kamu bisa nyuci piring sama gelas kan? " tanya ayah Gelis
"Ya bisa lah" kata Gelis
Gelis heran sama ayah nya ,pekerjaan itu kan emang udah kebiasaannya dirumah kalau lagi bantu-bantu ibu, kenapa ayah nya kok nanya kaya gitu. Itu adalah pertanyaan yang gak harus Gelis jawab karena sebenarnya ayah nya sudah tahu.
Lalu ayah meninggalkan Gelis yang sedang didapur tiba-tiba gak lama kemudian muncul bayangan seseorang laki-laki dari belakang Gelis, anehnya orang itu hanya bola balik gak jelas membuat Gelis greget untuk bertanya.
"Ada apa mas.,? " tanya Gelis sambil balik badan
"Any mba.. Ini.. Anu.. Gelasnya.. Taruh mana.. Anu gimanan.. Emm .. Sini aja lah" kata seorang pemuda sambil grogi menaruh gelas di atas meja dpur
"Kurang banyak gak mas? " tanya Gelis
"Anu.. Ng gak tahu" kaya pemuda langsung balik badan dan meninggalkan Gelis
"Aneh, gak jelas banget sih itu orang di tanya ko banyak anu-anu... Hadeh bingung deh" batin Gelis
Tapi entah kenapa jantung Gelis berdetak kencang ketika melihat pemuda tadi. Ia bingung dengan dirinya ada apa dengannya. Seperti merasakan jatuh cinta,tapi ia hanya mengkhyal. Setelah selesai acara lalu ayah Gelis mendekatinya.
"Gimana..??? " tanya ayah
"Gimana apanya sih, ayah iih? " jawab Gelis
"Itunya loh..??? " jawab ayah
"Yang bener ayah apa sih?? " tegas Gelis
"Hadeh.. Jadi anak kok gak mudengan, laki-laki tadi yang datang kasih gelas ke kamu" jawab ayah
"Owhh... Itu.. " jawab Gelis
"Owh doang.. Gimana ganteng gak?? " tanya ayah
"Namanya aja laki-laki ya jelas ganteng lah.. " jawab Gelis
"Kamu suka nggak? " tanya ayah
Gelis tak menjawab hanya membatin bahwasannya dia mau dengan pemuda itu. Keluarga Gelis berencana menjodohkan Gelis dengan pemuda itu yang bernama Amir. Hari demi hari Amir dan Gelis semakin akrab,kedua orang tua mereka menginginkan mereka untuk segera ke pelaminan. Tapi ada salah satu pihak yang gak setuju membuat Gelis sedih, yaitu ibu nya sendiri yang tidak merestui hubungan mereka karena mereka sama -sama anak pertama. Coba aja kalau Amir bukan anak pertama ibunya sudah merestui. Karena ibunya tak ingin anak nya menikah dengan orang pertama, banyak pepatah mengatakan buka itu terjadi maka hubungan keluarga mereka tak akan tahan lama.
Mendengar itu hati Gelis hancur berkeping-keping baru saja ia merasakan yang namanya jatuh cinta, kini harus meninggalkannya karena ibu tak meridhoinya. Hati Gelis menjerit tak bisa ber kaya apa-apa selain menghormati keputusan sang ibu. Karena dalam hubungan seperti ini harus ada restu kedua orang tua kita. Jika salah satu orang tua kita tak merestui maka hubungan yang kita jalani tak akan harmonis dan berkah karena tanpa restu nya.
Gelis hanya bisa bersabar untuk menerima semua ini, ini adalah pelajaran untuk Gelis bahwa semuanya sudah ada yang mengatur.

