Hiruk pikuk penjual dan pembeli di pasar ikan memadati jalanan becek menuju pelabuhan. Bau amis menyengat dimana-mana. Aku menutup hidung dengan ujung tangan kiri sweater wol sambil menahan nafas. Pagi yang beruap, dingin dan penuh aroma yang membusuk.
"Pelan-pelan dong, Di! " bisik Susan sambil menarik lengan kanan aku.
Aku memperlambat langkah. Dari kejauhan, tampak kapal-kapal yang sudah berbaris tapi bergoyang-goyang mengikuti arus air. Diatas, para kru mengatur jalannya calon penumpang dengan cara merapatkan perahu-perahu itu satu sama lain agar tak ada penumpang yang terjatuh. Susan mempererat genggamannya ke tangan ku.
"Sebanyak itulah orang yang mau menyebrang lautan , San " kataku sambil menunjuk antrean orang-orang yang berjalan dengan berhati-hati. Dipunggung mereka tergantung ransel besar yang berisi bekal mereka masing-masing. Ada juga tentengan ditangan kanan dan kiri mereka. Yang berpasangan saling pegang tangan. Saling menjaga satu salam lain seperti aku dan Susan sekarang.
Aku senang bisa membuat Susan bahagia. Bagaimanapun aku ingin Susan melupakan masa lalunya yang menyakitkan itu dan menerima kehadiran ku kembali sebagai seorang lelaki yang memiliki bak untuk dicintai. Aku berharap, Susan masih membuka pintu untuk ku.
Dari penginapan para rombongan mengajak menuju ke pantai Pulau Payung. Aku sengaja memiliki sepeda dua jok biar bisa membonceng Susan. Kami berjalan melewati trotoar kecil yang membelah rumah penduduk , penginapan, kafa-kafe dan toko sovenir. Semula Susan berpegangan pada jok sepeda yang aku duduki, tapi setelah aku bilang untuk pegangan untuk memeluk pinggang ku dengan malu ia melakukannya. Aku dan pesepeda lainnya memarkirkan sepeda secara kelompok.
"Foto dulu pak! " tawar seorang karyawan yang dari tadi sibuk sebagai seksi dokumentasi.
Aku dan Susan berfoto dibawah gapura yang bertuliskan ' Selamat Datang di Pulau Puntadadi ' sengaja aku peluk bahu Susan dan aku tarik lengannya supaya melinkar dipinggang aku.
"Nanti kirim lewat bluetooth ya, kang" kata ku
"Siap pak " balas laki-laki tersebut
"Kamu berani naik banana boat, San? " tanyaku
"Aku malas basah-basahan , Di" kata Susan sambil menggeleng
"Kalau gitu ke pantai aja dulu, yuk" Aku tarik tangan Susan dan berlari kecil menuju pantai.
Senang rasanya bisa melihat ombak lagi, menginjak pasir basah tanpa ada alas kaki dan memandangi lautan dari jarak sangat dekat.
"Indah banget pemandangannya, San" kataku sambil mencripati air laut yang menyentuh kaki.
"Iihhh...! Awas ya, kalau sampai bajuku basah! " ancaman Susan
Aku tersenyum melihat tingkah Susan yang seperti takut kena air. Tapi aku gak mau merusak suasana dengan ciprat-cipratan air kaya anak kecil, lalu aku menarik lengan Susan menuju pasir kering. Kami menikmati akan keindahan alam yang Tuhan ciptakan. Suatu pemandangan yang diman semua orang menunggu akan kejadian itu.
Kesenjaan dilangit sungguh menawan sehingga membuat semua orang tetawan akan pancaran sinar yang membuat menjadi berbeda, berbagai warna.

