Tampilkan postingan dengan label Cerpen Catatan Terakhir Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Catatan Terakhir Sekolah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juli 2022

Catatan Terakhir Sekolah


 

Tidak terasa tiga tahu telah berlalu. Suka dan suka telah terlewati bersama. Dan malam ini adalah malam perpisahan sebelum akhirnya mereka menyandang almamater yang baru di universitas mereka nanti. 

Dina, Dito dan Dani sudah jauh-jauh hari mempersiapkan untuk acara malam ini. Mereka seng aja mengenakan baju sama. Warna hitam dan merah.

Suasana ring menyelimuti siswa siswi SMK Taruna Abdi Bangsa. Lulus SMK dan siap menempuh masa depan baru. 

Arum dan Rehan juga hadir dalam acara itu. Tapi mereka tak lagi dekat seperti dulu. Kaila lebih cenderung menjauh dari Arum. Dan Arum kini seorang diri, tak lagi berkawan. 

Arum mendekat ke arah Dina,Dito dan Dani. Niatnya, Arum hanya ingin mints maaf sebelum ia kehilangan jejak Dina. 

"Mau ngapain kamu kesini? " tanya Dito sinis 

Dito tidak menyukai Arum. Ya, dari awal memang sudah tak menyukainya. Apalagi sekarang, setelah Arum mengkhianati dan menyakiti Dina. Dito semakin membenci Arum. 

Dani juga memandang Arum dengan pandangan yang sinis. Hanya Dina yang tak sinis dengan Arum. 

Jauh dari lubuk hati Dina, sebenarnya Dina merasa tak tega melihat Arum tak punya teman seperti ini. Dina merasa kasihan. Tapi untuk memaafkannya, Dina tak bisa begitu saja memendam lukanya. 

Walau harapannya kepada Rehan telah ia kubur dalam-dalam, tapi tetap saja luka itu masih terasa perihnya Pengkhianatan seorang sahabat. 

Siapapun orangnya pasti akan March kalau dikhianati oleh sahabatnya. Bukan hanya Dina saja. 

"Din, aku, aku, aku cuma mau minta maaf sama kamu" kaya Arum memberanikan diri. 

Arum menundukan kepalanya. Malu dan takut. Apalagi Dito dan Dani yang nampak sinis dan angkuh terhadapnya. 

"Wuih.. Gampang banget ya kamu minta maaf, setelah di kasih kepercayaan, terus mengkhianati, nyakitin, terus sekarang mau minta maaf, " kata Dito dengan angkuh. 

Arum hanya mampu terdiam menahan amarahnya. Karena kenyataannya, dia juga salah. Dia telah melukai hati Dina. Sementara Dina dan Dani hanya terdiam saja. Terutama Dina. 

"Udahlah Dit, jangan kaya anak kecil" Dani menasihati 

"Udahlah Rum.,Lupain. Aku udah gak mau membahas itu lagi" kata Dina yang sudah tak ingin membuka luka lagi. 

"Tapi Din.. " Arum berusaha merengek

"Udahlah, Dina kan udah bilang, kenapa kamu ngak paham sih? " gertak Dito. 

Dari jauh Rehan melihatnya lalu menghampiri mereka. 

"Kalian tuh ya, ada orang minta maaf malah dimaki-maki" kaya Rehan membela Arum. 

"Maki? Kamu gak maki-maki, kami hanya bicara fakta bukan opini" sahut Dito

"Udahlah, ayo Dit, Dina gak usah berdebat. Mengotori coretan malam ini saja."ajak Dani lalu mereka pergi meninggalkan Arum dan Rehan. 

" Makasih ya La.. " kata Arum

Kaila hanya menjawabnya dengan senyuman. Lalu pergi meninggalkan Arum. 

Rehan memang cenderung menjauhi Arum. Bukannya, apa tapi Kaila hanya tak ingin menyakiti Dina atau pun Arum. Rehan tahu, Dina pasti akan terluka melihat dia yang semakin dekat dengan Arum. Dan akhirnya, Dina pasti akan menyakiti Arum. Rehan tak mau kalau hal itu sampai terjadi.

 Sebenarnya, malam ini Rehan telah merencanakan sesuatu. Dia ingin mengutarakan perasaan yang telah dipendamnya selama ini. Dia tak mau menyia-nyiakan waktu terakhir ini. 

Dengan memberanikan diri, Rehan menculik Dina dari kedua sahabatnya, Dina dan Dani. Rehan membawa Dina menjauh dari gemuruhnya pesta perpisahan malam ini. 

Rehan mengajak Dina menuju ruang perpustakaan. Disitu, ada lilin-lilin kecil yang menyala. Ada beberapa bingkai foto yang sering diambil Rehan secara diam-diam. Ada beberapa potongan kertas yang berisi puisi-puisi cinta yang sengaja Rehan sispkan untuk Dina. 

Dina memungut satu per satu kertas itu,lalu Dina menatap lekat Rehan yang tertunduk malu. Dina melangkah kaki dan mendekat ke arah nya. Bibir nya mengulum senyum. 

"Aku, aku memang sangat mencintaimu. Sangat menginginkanmu. Apalagi, kamu selalu mengingatkanku pada kepahitan masa lalu, " kata Dina sambil cerita. 

"Kehadiranmu, sudah membuat aku kembali merasakan hidupku. Kehadiranmu, memberi cerita lain pada hidupku. Dan kehadiranmu, memberi harapan baru dalam hidupku" kata Dina

"Tapi.. " ucap Dina menggantungkan Rehan semakin berdebar-debar. 

"Itu dulu, sebelum kamu bersama Arum, " kata Dina dengan nada rendah. 

Hatinya memang masih menginginkan Rehan. Tapi logo kanya dia tidak bisa. Dia terlalu terluka. Semua sudah sirna. Luka itu sudah menghancurkan harapannya. 

"Jadi, Din? " kata Rehan setengah frustasi 

Dina dan Rehan saling bertatapan. Mata mereka saling beradu. 

"Aku memang sangat mencintaimu, tapi maaf aku sudah gak bisa, " kata Dina

Dina berusaha pergi, tapi secepat kilat tangan Rehan meraihnya. Dina jatuh dalam pelukan Rehan. Kembali saling bertatapan. Dan di bawah sinar lilin-lilin kecil, keheningan menyerang mereka berdua. 

Mereka terhanyut dalam cinta yang sebenarnya masih mereka rasakan. Dengan penuh keberanian Rehan mencium bibir Dina. Hingga dia teraadar dan kemudian mendorong tubuh Rehan, lalu berlari meninggalkan Rehan seorang diri. 

Dina berlari sampai nafasnya teregah-egah. Hatinya bahagia. Dia mendapatkan sebuah ciuman dari Rehan, itu adalah ciuman pertamanya.

Malu, iya, Dina merasa malu. Tapi juga bahagia. Sekarang kalau pun mereka bersatu pasti akan banyak hati yang terluka. Salah satu satunya Arum. Arum pasti akan sakit hati, akan merasa cemburu. Belum lagi Dito sama Dani mereka pasti tak akan menerima Rehan sebagai pacarnya. 

Dina lalu memilih untuk pulang ke rumah meninggalkan pesta dan membiarkan kedua sahabatnya mencarinya. Dina berjalan seorang diri di keheningan malam. Menyaksikan bintang-bintang malam. 

Malam ini adalah malam terakhir menyaksikan langit dari Jakarta. Karena besok ia akan terbang ke Sidney dan merajut masa depannya. Meninggalkan semua cerita dan harapan disana, termasuk meninggalkan kisah cintanya.