Di sebuah desa Padusan ada 2 saudara bukan saudara sih tapi sepupu.Mereka sejak kecil selalu bersama.Mereka bernama Tirta dan Nuri,Tirta kakak sepupu Nuri yang tinggal di sebrang jalan. Rumah mereka tak terlalu jauh kurang lebih 1 Km. Kebiasaan Nuri yang selalu dimanja dalam keluarga membuat ia jera akan keadaan itu.Pada suatu hari Nuri diajak Tirta pergi untuk memungut kayu diperbukitan.
"Nuri sini ngapai berdiri di situ? " kata Tirta
"Iya aku datang " sahut Nuri dengan hati riang
Setelah menelusuri ke seluruh penjuru tiba-tiba
"Aaaa.,..!!! " teriak Nuri "Ada apa, kenapa kamu menjerit ?" kata Tirta "aku melihat ular, aku takut" Tirta melirik ke sekeliling mereka tetapi Tirta tak menemukan seekor ular disana. Sejak kejadian itu ia tak ingin lagi mengajak Nuri untuk ikut dengannya.Karna perlakuannya itu akan membuat sang ibu Nuri marah.Suatu hari Tirta bertemu Nuri "Ri.. Aku pamit ya.. " kata Tirta " Mau kemana ko pamit " sahut Nuri "Gak ke mana-mana sih cuma mau pergi ke pondok pesantren ajh.. Hehehehe" ujar Tirta "trus kenapa harus pamit" tanya Nuri "Ya.. Setidaknya aku kasih tau sama kamu biar kamu gak nyariin aku" jawab Tirta " Owh gitu ya.. Oky.. Kamu ke pondoknya lama? " tanya Nuri "Entahlah,aku gak tau akan kah lama atau tidak "Mengapa seperti itu.. ? " tanya Nuri " Emang seperti itu " ucap Tirta "Hem.. Baiklah"
Tahun telah berlalu Nuri tak pernah ada kontak dengan Tirta yang di pndok pesantren.Nuri mempunyai keinginan ketika ia sudah lulus sekolah dia ingin pergi ke pondok untuk mengaji bersama Tirta. " Bu.. Bsok kalau Nuri sudah lulus sekolah boleh gak Nuri pergi ke pondok pesantren" "Tentu saja boleh sayang, mau ke pondok pesantren mana ? " tanya sang ibu " kalau boleh Nuri ingin di pondoknya Tirta aja bu.. " jawab Nuri
Akhir tahun ini Nuri lulus sekolah dengan nilai yang cukup baik.Kedua orang tua Nuri bangga dengannya.Ia sudah tak sabar untuk pergi ke pondok pesantren yang ia tunggu yaitu bersama Tirta disana.Ketika sampai disana Nuri menjumpai Tirta segera ia menyapanya. "Tirta... " ucap Nuri Tirta membalikkan badan dan mengernyutkan keningnya " siapa kamu tahu nama aku darimana" sikap Tirta kini berubah.Nuri sedih dengan sikap Tirta kini berbeda.Sekian lama kebahagiaan yang ia tunggu kini berbalik menjadi kesedihan yang tak tertahankan.
" kenapa sekarang ia berbeda.. Ia bukan seperti Tirta yang dulu aku kenal" dengan nada yang terisak-isak.Tiba-tiba ada seseorang yang mendekati Nuri."kamu kenapa kok nangis? " mendengar itu Nuri kaget, segera ia mengusap air matanya. "Tidak apa-apa" jawab Nuri dengan wajah senyum. "Katakan saja tak apa" tanya si dia Nuri menjawabnya " Tidak.. Aku tidak apa" segera ia meninggalkan dia dan berlari menuju kamar.
Suatu hari disaat Nuri sedang ngobrol asik dengan temannya ia menjumpai Tirta yang lewat di depannya.Dengan sengaja Tirta menyenggol kaki Nuri."Aduh .. Maksud kamu apa, apa salah aku kenapa kamu menyakiti kaki ku?? "aku sepupumu" ujarnya dengan nada yang halus. Tirta tak memperdulikan apa yang di katakan Nuri. Tak semua orang mengetahui bahwa Nuri dan Tirta adalah saudara sepupu.
Sikap Tirta begitu egois akan dirinya sendiri sampai-sampai ia memfitnah yang tidak-tidak dengan Nuri. Mendengar itu hati Nuri merasa sakit hatinya hancur. Semua teman yang ada di pondok sudah mengetahui akan sikap dan sifat Tirta yang begitu angkuh dengan kepintaran yang ia miliki. Meskipun Nuri difitnah yang tidak-tidak ia masih tetap bahagia dengan teman di sekelilingnya yang selalu ada untuknya. Dia selalu bersabar menghadapi sikap Tirta yang begitu egoisme. Dalam hatinya berkata "bahwa Tirta pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang telah ia lakukan kepadanya".
Percayalah tidak ada skenario Tuhan ciptakan tanpa diselipkan hikmah didalamnya.,


EmoticonEmoticon