Begini rasanya menjadi seorang siswa baru. Setelah dinyatakan lulus MOS aku akhirnya bisa menggunakan fasilitas yang disediakan sekolah. Tidak banyak yang menggunakan sepeda melainkan diantar oleh kedua orang tuanya menggunakan sepeda motor dan mobil. Denis adalah teman pertama yang ku kenal. Dia yang terlebih dahulu menghampiri ku saat aku menunggu seseorang di depan gang. Dari percakapan singkat yang terjadi saat itu, aku baru tahu bahwa ternyata gang tempat kami tinggal bersebelahan.
"Kamu gak mau berangkat bareng sama aku aja? Biar lebih rame, " Denis menawari ku untuk berangkat bareng.
Aku hanya menggelenf, menolak tawarannya. Meskipun aku ingin membaur bersama mereka dan mencari teman baru.
Perlengkapan semua siswi sekolah ini memang seragam. Mulai dari tas, kaos kaki dan sepatu, semuanya sama. Yang membedakan adalah ukuran dan nama yang dicantumkan pada tiap benda tersebut. Kata pihak sekolah, ini sengaja untuk menghindari kecemburuan sosial diantara para siswa. Setelah dipikir-pikir, memang ada benarnya juga. Jadi tidak akan ada adu merk. Saat disekolah, status kami sama, siswa.
Kami terus menggayuh sepeda. Disana semua kulihat saling berpasang-pasangan deret -deret berjajar sementara aku sendirian mereka terlihat sudah begitu akrab.
Tapi sejujurnya mendengar orang-orang disekeliling ku membacakan banyak hal aku teringat sama teman-temanku waktu SD.
Sejenak aku dapat mengalihkan perhatian. Aku mendongakkan kepala, melihat seseorang yang sedang berpolah entah itu apa.
Aku terdiam, memang benar-benar tak ada orang yang bisa ku ajak ngobrol semuanya akrab dengan teman-teman mereka sendiri sedangkan diri terdiam terpaku.
Tepat di depanku..
" stop,!!! " Teriakan mendadak dari Kak Ranti membuat semuanya kaget. Aku yang tadinya sepaneng dengan keadaan, spontan aku mendongak jantung ku bedebar kenjang. Lalu aku menggosokkan tanganku kedada.
Lalu orang yang membuat ku kaget mengucapkan maaf padaku, tenyat dia adalah seorang laki tampan. Sedetik aku melihatnya lalu dia memberikan padaku senyuman pertama yang begitu indah dari pemilik sebuah lesung disebelah pipi kanannya. Aku langsung menarik tangan dari dahi. Memalukan rasanya kalau dia sampai tahu insiden yang baru saja menimpaku.
Dalam hatiku aku bersyukur karena sejak kejadian tadi, aku yang sebelumnya sendirian kini telah ditemani oleh malaikat tampan. Siswa yang jelas adalah kakak kelasku ia memiliki kulit yang bersih. Hidungnya manjung. Bagian depan rambut pendeknya dibuat sedikit naik dan terlihat kaku karena wax.
"Kelas satu baru ya? "
"Eh iya, " ku lirik sekilas label kelas yang terjahit di lengan kanan bajunya, " iya kak.. "
Dia menggangguk kecil beberapa kali kemudian menunduk, memerhatikan tas punggungku. Matanya menyipit, menyelidiki rangkaian huruf yang tertulis pada tas ku. "Kaira Arfiah" jadi panggilannya siapa? Kaira atau Arfiah? "
"Ah? "
Aku sedikit dibuat gelagepan karena tidak menyangka bahwa dia akan berinisiatif membaca namaku.
"Oh jadi nama panggilannya Ah? "
"Hah? " aduh kenapa kata itu yang keluar dari mulutku. Aku jadi semakin salah tingkah dibuatnya. Aku tidak sampai membayangkan bagaimana kakak itu dihadapanku akan menyapaku demikian. "Eh, bukan gitu kak, panggil aja Kaira" aku berusaha mencairkan suasana, menyenangkan diri sendiri. Dia hanya manggut-manggut.
"Kakak Rian Ardiyansah? "
Dia segera menutupi nama pada bajunya, mungkin merasa tidak nyaman jika aku mengucapkan nama lengkapnya begitu saja.
"I'an aja ..panggilnya kak i'an! "
Itu kisah ku waktu itu. Membuat tersenyum-senyum sendiri ketika mengingatnya.


EmoticonEmoticon